DO'AKU SELALU UNTUKMU UMMI.....

Sabtu, 13 November 2010

Apakah Setiap Amal Yang Tidak Dilakukan Di Jaman Nabi Disebut Bid'ah ?

Ada dua pendapat ’ekstrim’ terkait dengan bahasan ini. Satu pendapat mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dikerjakan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallamtidak bisa disebut bid’ah. Ini tergantung niat atau bentuknya. Jika niat atau bentuknyanya (mereka anggap) baik, maka jadilah ia bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Bisa dikatakan, tidak ada kamus bid’ah dalam bahasa syari’at mereka. Pendapat ini dianut oleh kebanyakan penggemar bid’ah. Adapun pendapat lain mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak dikerjakan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, maka itu disebut bid’ah secara mutlak.[1]

Dua pendapat ini keliru. Ada satu kaidah yang sangat penting (dalam mengenal bid’ah) yang perlu kita perhatikan sebagai berikut :
إذا تَرَكَ الرسول صلى الله عليه وسلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضي لها قائمًا ثابتًا ، والمانع منها منتفيًا ؛ فإن فعلها بدعة
”Apabila Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam meninggalkan satu ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada, padahal faktor dan sebab yang menuntut dikerjakan ada, sementara faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah tersebut adalah bid’ah”.
[2]
Ada dua kata kunci di sini, yaitu :
1.          Keberadaan faktor dan sebab yang menuntut dilakukannya amalan tersebut.
2.          Ketiadaan faktor penghalang untuk mengerjakan amalan tersebut.
Contoh (1) : Pengumpulan Al-Qur’an di jaman Abu Bakar. Hal ini tidak pernah dilakukan pada jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Namun apakah hal ini bisa disebut sebagai bid’ah ? Jawabnya : Tidak. Mengapa ? Karena faktor atau sebab yang mendorong dilakukan pengumpulan di jaman Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam itu belum ada. Pada waktu itu, Al-Qur’an dijaga dalam dada para shahabat melalui hafalan mereka. Ini sekaligus sebagai faktor penghalang dilakukannya pengumpulan Al-Qur’an. Oleh karena itu, pengumpulan Al-Qur’an di jaman Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallambelum dirasa perlu sehingga hal itu belum/tidak dilaksanakan di jaman beliau shallallaahu ’alaihi wasallam. Namun setelah tragedi perang Yamamah ketika Khalifah Abu Bakrradliyallaahu ’anhu menumpas orang-orang murtad dan gerombolan pengikut nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab, banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur (sebanyak 70 orang). Dari sinilah kemudian muncul faktor pendorong atau sebab dilakukannya pembukuan Al-Qur’an – sekaligus menggugurkan faktor penghalang yang dulu di jaman Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ada. Ini tercermin pada perkataan ’Umar bin Khaththab kepada Abu Bakr radliyallaahu ’anhuma :
”Dalam peperangan Yamamah para shahabat yang hafal Al-Qur’an telah banyak yang gugur. Saya khawatir akan gugurnya para shahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya, sehingga banyak ayat-ayat yang perlu dikumpulkan”.
Apa yang dikatakan oleh ’Umar merupakan sebab yang sangat kuat dilakukannya pengumpulan Al-Qur’an demi kemaslahatan kaum muslimin.
Hal yang sama juga seperti kasus pembubuhan titik dan harakat pada huruf hijaiyyah.[3] Setelah banyak terjadi kesalahan dalam bacaan dan banyaknya perselisihan karenanya, maka dipandang perlu untuk membubuhkan tanda-tanda dalam Al-Qur’an sebagaimana dirintis oleh Abul-Aswad Ad-Dualiy, yang kemudian dilanjutkan (disempurnakan) oleh Naashir bin ’Ashim dan Yahya bin Ya’mar pada jaman kekhalifahan ’Abdul-Malik bin Marwan; dan kemudian disempurnakan lagi oleh Al-Khalil. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi kesalahan dalam bacaan Al-Qur’an.
Contoh (2) : Maulid Nabi. Jika kita ditanya : ”Apakah hal itu dilakukan di jaman Nabishallallaahu ’alaihi wasallam (atau jaman shahabat setelah Nabi wafat) ?”. Jawabannya : Tidak. Apakah ini disebut bid’ah ? Jawabannya adalah : Ya. Mengapa ? Karena faktor pendorong dan sebab untuk dilakukan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam ada. Juga, faktor penghalangnya pun tidak ada. Namun realitas menyatakan bahwa Nabishallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak melakukannya. Apa artinya ? Artinya, maulid Nabi bukan merupakan amalan yang teranggap dalam syari’at secara asal. Jika ada yang mengatakan : ”Kami melakukannya dengan tujuan (faktor pendorong) untuk meramaikan syi’ar-syi’ar Islam dan sebagai wujud rasa syukur kami kepada beliaushallallaahu ’alaihi wasallam”. Jika memang itu faktor pendorong Anda, maka kami jawab : ”Bukankah faktor pendorong yang sama sangat mungkin ada pada jaman Nabishallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya serta tidak ada halangan bagi mereka untuk melakukannya ? Namun ternyata mereka tidak melakukannya !!. Jadi, itu merupakan amalan bid’ah. Bukan teranggap sebagai kemaslahatan dalam syari’at.
Ibnu Taimiyyah berkata :
فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه ، ولو كان هذا خيرًا محضًا أو راجحًا لكان السلف رضي الله عنه أحق به منا ، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمًا له منا ، وهم على الخير أحرص .  وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته وإتباع أمره ، وإحياء سنته باطنًا وظاهرًا ، ونشر ما بعُث به ، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان . فإن هذه طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم  بإحسان
”Sesungguhnya ini (maulid) tidak pernah dilakukan oleh salaf, padahal faktor pendorongnya ada, sedangkan faktor penghalangnya tidak ada. Seandainya ini baik atau agak kuat, tentu salaf lebih berhak (melakukan hal ini) daripada kita; karena sesungguhnya kecintaan dan pengagungan mereka terhadap Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam lebih dari yang kita lakukan dan mereka sangat bersemangat dalam segala kebaikan. Sempurnanya kecintaan dan pengagungan terhadapnya hanya terdapat pada kesetiaan mengikuti jejaknya, menaatinya, melaksanakan perintahnya, menghidupkan sunnahnya lahir dan batin, menjelaskan ajarannya, serta berjihad demi semua itu dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah jalan yang ditempuh oleh para pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan”.[4]
Atau jika kita ingin contoh yang lebih jelas dari nomor 2, maka kita ambil contoh ’ekstrim’ : adzan dan iqamah yang dilakukan di shalat ’Ied. Saya yakin kita semua akan mengatakan bahwa itu bid’ah.[5] Apa indikasinya ? Faktor pendorong untuk dilakukan adzan dan iqamah pada shalat ’Ied di jaman Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ada, yaitu untuk memberitahukan kaum muslimin agar berkumpul dan menghadairi shalat berjama’ah di lapangan (mushalla); sementara itu faktor penghalangnya tidak ada sama sekali. Tapi pada kenyataannya, beliau tetap tidak melakukannya.[6] Maka sesuai dengan pernyataan di awal, adzan dan iqamah pada shalat ’Ied itu hukumnya bid’ah.
Contoh (3) : Shalat tarawih berjama’ah di masjid. Jika kita ditanya : ”Apakah hal itu dilakukan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam ?”. Kita jawab : ”Ya, akan tetapi hanya dilakukan beberapa malam saja, dan kemudian beliau tinggalkan”. Apakah shalat tarawih yang dihidupkan ’Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ’anhu dan kemudian kita ikuti sampai sekarang bisa dikatakan bid’ah ? Jawabannya : Tidak. Mengapa ? Karena ada faktor penghalang yang kuat dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam untuk meninggalkannya pada waktu itu sebagaimana tergambar dalam perkataan beliau ketika memberikan penjelasan kepada shahabat mengapa beliau meninggalkan shalat tarawih berjama’ah di masjid :
فإنه لم يخف علي شأنكم الليلة ولكني خشيت أن تفرض عليكم صلاة الليل فتعجزوا عنها
”Sesungguhnya keadaan kalian tidaklah samar bagiku di malam tersebut (= yaitu iman dan semangat kalian dalam beribadah), akan tetapi aku merasa khawatir (ibadah ini) akan diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melakukannya”.
Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam wafat dan syari’at telah mantap[7], maka hilanglah kekhawatiran ini, sekaligus hilang pula faktor penghalangnya. Dan hal ini sesuai dengan keumuman anjuran beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan shalat tarawih berjama’ah :
إنه من قام مع الامام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة
“Sesungguhnya barangsiapa shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) sampai selesai, maka ditulis baginya sama dengan shalat semalam suntuk”.
****
Itu saja secara global uraian ringkas mengenai salah satu kaidah mengenal bid’ah. Masih ada beberapa penjelasan lanjutan terkait dengan pembahasan ini, sebagaimana diterangkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizaaniy dalam kitab Qawaaidu Ma’rifatil-Bida’. Tentu saja, penentuan bid’ah atau tidaknya satu amalan bukan hanya berdasarkan kaidah di atas saja. Masih banyak kaidah-kaidah lain yang berkaitan yang perlu diketahui oleh kaum muslimin semua. Saya persilakan bagi rekan-rekan asatidzahdan thullabul-’ilmi yang lebih berkompeten untuk membahasnya secara mendalam............
Wallaahu ta’ala a’lam bish-shawwab.

[Abul-Jauzaa’ – Shaffar, 1430 di Ciomas Permai].


[1]     Sebagian ikhwah memahami pengertian bid’ah seperti ini, yaitu segala sesuatu yang tidak ada di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, maka dinamakan bid’ah.
[2]     Kaidah turunan yang lebih luas dari yang di atas adalah :
كل عبادة من العبادات ترك فعلها السلف الصالح من الصحابة والتابعين وتابعيهم أو نقلها أو تدوينها في كتبهم أو التعرض لها في مجالسهم فإنها تكون بدعة بشرط أن يكون المقتضي لفعل هذه العبادة قائمًا والمانع منه منتفيًا
”Setiap ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada yang tidak dilakukan oleh as-salafush-shaalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in; atau mereka tidak menukilnya (tidak meriwayatkannya) atau tidak menukilnya dalam kitab-kitab mereka, atau tidak pernah menyinggung masalah tersebut dalam majelis-majelis mereka; maka jenis ibadah tersebut adalah bid’ah dengan syarat faktor penuntut untuk mengerjakan ibadah tersebut ada dan faktor penghalangnya tidak ada.
[3]     Huruf hijaiyyah di jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak memakai tanda, titik, dan harakat.
[4]     Iqtidlaa’ Shirathil-Musthaqiim, 2/615.
[5]     Kecuali yang sudah ‘kebangetan’ doyan bid’ah.
[6]     Sebagaimana yang telah shahih dalam riwayat :
عن جابر بن سمرة قال صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة
Dari Jabir bin Samurah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Aku pernah shalat hari raya bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bukan hanya sekali atau dua kali tanpa adzan dan iqamat” [HR. Muslim no. 887].
[7]     Tidak ada kewajiban tambahan yang setelah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallamwafat, karena Islam telah sempurna dengan turunnya QS. Al-Maaidah ayat 3.

Apakah Seorang Muslim Harus Mengikuti Madzhab Tertentu ?

Tidak perlu diragukan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengharuskan umat ini untuk berpegang pada madzhab tertentu. Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mewajibakan mereka untuk ber-itiiba’ kepada beliau, sebab kebenaran terbatas pada apa yang beliau sabdakan saja. Seorang yang ‘adil akan berkesimpulan bahwa taqlid kepada imam tertentu tanpa melihat dalilnya adalah kebodohan yang besar dan musibah yang mengerikan. Bahkan sikap seperti itu adalah sikap yang didasari oleh hawa nafsu dan fanatisme buta belaka.

Seluruh imam mujtahid telah sepakat untuk melarang taqlid, sebagaimana kita pahami pada pembahasan sebelumnya. Maka barangsiapa mengikuti dalil, berarti dia telah mengikuti imam madzhabnya, mengikuti imam yang lainnya, dan Kitab Allah beserta Sunnah Rasul-Nya. Seseorang yang dianggap keluar dari madzhabnya adalah orang yang bersikukuh untuk ber-taqlid walaupun menyelisihi dalil, sebab imamnya sendiri ketika mendapatkan hadits yang shahih akan mengikutinya dan meninggalkan pendapatnya sendiri. Orang yang taqlid dengan gaya semacam itu telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri.[1]
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya”.[2]
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”.[3]
Ibnu Hazm – rahimahullah – berkata : [4]
التقليد حرام ولا يحل لأحد أن يأخذ بقول أحد غير رسول الله صلى الله عليه وسلم بلا برهان لقوله تعالى : (اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ) وقوله تعالى : (وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا).
وقال مادحًا لمن لم يقلد : (فَبَشِّرْ عِبَادِي * الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ) وقال تعالى : (فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ) فلم يبح الله تعالى رد التنازع إلى أحد دون القرآن والسنة، وقد صح إجماع الصحابة كلهم أولهم عن آخرهم وإجماع التابعين أولهم عن آخرهم وإجماع تابعي التابعين أولهم عن آخرهم - على إمتناع والمنع من أن يقصد منهم أحد إلى قول إنسان منهم أو ممن قبلهم فيأخذه كله.
فليعلم من أخذ بجميع أقوال أبي حنيفة أو جميع أقوال مالك أو جميع أقوال الشافعي أو جميع أقوال أحمد رضي الله عنهم ولم يترك قول من اتبع منهم أو من غيرهم إلى قول غيره، ولم يعتمد على ما جاء في القرآن والسنة غير صارف ذلك إلى قول إنسان بعينه - أنه قد خالف إجماع الأمة كلهم أولها عن آخرها بيقين لا إشكال فيه، وأنه لا يجد لنفسه سلفًا ولا إنسانًا في جميع الأعصار المحمودة الثلاثة، فقد اتبع غير سبيل المؤمنين من هذه المنزلة، وأيضًا فإن هؤلاء الفقهاء كلهم قد نهوا عن تقليد غيرهم فقد خالفهم من قلدهم.
“Taqlid adalah haram, tidak halal bagi seorang yang berpegang pada pendapat orang lain tanpa dasar ilmu, selain dari perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamdengan dasar firman Allah ta’ala : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”.[5] Dan juga firman-Nya ta’ala : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami".[6]
Kemudian Allah ta’ala memuji orang-orang yang tidak ber-taqlid dengan firman-Nya:“Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.[7] Dan juga firman-Nya ta’ala : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”.[8]
Allah ta’ala melarang mengembalikan perselisihan kepada siapapun selain Al-Qur’an dan As-Sunnah. Telah terjadi ijma’ di kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’indari awal hingga akhir tentang tidak diperbolehkannya mengkhususkan seseorang, baik dari kalangan mereka sendiri atau orang yang hidup sebelum mereka, dan menjadikannya sebagai panutan, dengan konsekuensi mengikuti seluruh perkataannya.
Jadi, perlu diketahui oleh orang-orang yang mengambil seluruh perkataan imamnya, baik Abu Hanifah, Maalik, Asy-Syaafi’i, atau Ahmad radliyallaahu ‘anhum, dan tidak mau meninggalkan pendapat imamnya untuk menuju pendapat yang lain, kemudian dia juga tidak menyandarkan dirinya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah; maka dia dinyatakan telah menyelisihi ijma’ seluruh umat dari awal hingga akhir. (Atas perbuatannya itu), niscaya dia tidak akan mendapati satu pun pendahulu dari kalangan manusia yang hidup dalam tiga kurun keemasan. Dia telah meniti jalan yang bukan ditempuh oleh kaum mukminin. Para ahli fiqih telah melarang untuk ber-taqlidkepada yang lain. Dan bagi mereka yang melakukannya dianggap telah menyelisihi apa yang diriwayatkan oleh orang yang berhak mereka ikuti”.
[selesai perkataan Ibnu Hazm rahimahullah].
Al-Ma’shuumiy berkata :[9]
والعجب من هؤلاء المقلدين لهذه المذاهب المبتدعة الشائعة والمتعصبين لها، فإن أحدهم يتبع ما نُسب إلى مذهبه مع بُعده عن الدليل، ويعتقده كأنه نبي مرسل، وهذا نأْي عن الحق، وبُعد عن الصواب، وقد شاهدنا وجربنا أن هؤلاء المقلدين يعتقدون أن إمامهم يمتنع على مثل الخطأ، وأن ما قاله هو الصواب ألبتة، وأضمر في قلبه أنه لا يترك تقليده وإن ظهر الدليل على خلافه، وهذا هو طبق ما رواه الترمذي وغيره عن عدي بن حاتم رضي الله عنه أنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ : (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ). فقلت : يا رسول الله، إنهم ما كانوا يعبدونهم، فقال : ((إنهم إذا أحلوا لهم شيئًا استحلوه، وإذا حرَّموا عليهم شيئًا حرَّموه، فذلك عبادتهم)).
“Fenomena aneh dapat kita lihat dari orang-orang yang ber-taqlid dan fanatik kepada madzhab-madzhab bid’ah yang telah menyebar. Diantara mereka ada yang mengikuti pendapat yang dinisbatkan kepada madzhabnya, meskipun hal tersebut jauh dari kebenaran dalilnya. Dia meyakini bahwa pendapat yang ada seakan-akan sabda Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam yang terutus. Tentu saja sikap seperti ini jauh dari kebenaran. Kami telah menyaksikan dan mengalami sendiri, mereka berkeyakinan bahwa seorang yang mempunyai kemampuan seperti imamnya tidak mungkin salah. Mereka juga meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh imamnya pasti benar. Sehingga hal itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan taqlidkepadanya, meskipun pendapat yang ada berseberangan dengan dalil. Kondisi ini persisi seperti gambaran sebuah riwayat yang dibawakan oleh At-Tirmidzi dan lainnya, bahwa ‘Adiy bin Haatim pernah berkata : “Aku mendengar Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : ‘Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah’.[10] Maka aku berkata : “Wahai Rasulullah, mereka tidak menyembah rahib-rahib itu”. Beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketika para rahib itu menghalalkan sesuatu, mereka menghalalkannya. Dan apabila para rahib itu mengharamkan sesuatu atas diri mereka, maka mereka pun mengharamkannya. Itulah bentuk peribadahan kepada mereka (para rahib)”.[11] [selesai].
Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata :
من قلَّد معيَّنًا في تحريم شيء أو تحليله، وقد ثبت الحديث على خلافه، ومنعه التقليد عن العمل بالسنة، فقد اتخذ من قلَّده ربًّا من دون الله تعالى، يحل له ما حرم الله، ويحرم عليه ما أحل الله.
“Barangsiapa yang bertaqlid kepada seseorang dalam pengharaman atau penghalalan sesuatu, dimana ia mengetahui ada hadits menyelisihinya, sehingga sikap taqlid itu menghalanginya untuk beramal sesuai dengan sunnah; sungguh ia telah mengambil orang yang ditaqlidinya itu sebagai Rabb selain Allah ta’ala. Ia menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah”.[12]
Al-Mardawiy[13] menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah :
من أوجب تقليد إمام بعينه استتيب وإلا قُتل، لأن هذا الإيجاب إشراك بالله في التشريع الذي هو من خصائص الربوبية.
“Barangsiapa yang mewajibkan untuk bertaqlid pada imam tertentu, maka ia diminta bertaubat. Jika menolak, maka ia dibunuh. Karena, pewajiban/pengharusan ini termasuk perbuatan menyekutukan Allah ta’ala dalam hal tasyri’ yang merupakan kekhususan Rububiyyah (dari-Nya semata)”. [selesai]
Al-Kamaal bin Hamaam Al-Hanafiy telah menyebutkan :
أن التزام مذهب معين غير لازم على الصحيح، لأن التزامه غير ملزم، إذا لا واجب إلا ما أوجبه الله ورسوله، ولم يوجب الله ولا رسوله على أحد من الناس أن يتمذهب بمذهب رجل من الأئمة فيقلده في دينه في كل ما يأتي ويذر دون غيره، وقد انطوت القرون الفاضلة على عدم القول بلوزم التمذهب بمذهب معين.
“Menetapi satu madzhab tertentu adalah tidak wajib menurut pendapat yang shahih, sebab tidak ada keharusan akan hal itu. Sesuatu hal tidaklah dikatakan wajib kecuali apa-apa yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan tidaklah Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kepada manusia untuk menganut madzhab seorang imam yang ia bertaqlid kepadanya semata dalam seluruh perkara agamanya, dan melarang untuk mengikuti imam yang lain. Kurun yang utama telah berlalu, dan selama itu tidak ada perkataan (dari kalangan ulama) yang mewajibkan untuk menetapi madzhab tertentu”.[14]
Al-Qarafiy rahimahullah berkata :
وأجمع الصحابة على أن من استفتى أبا بكر وعمر، وقلدهما، فله أن يستفتى أبا هريرة ومعاد بن جبل وغيرهما، فيعمل بقولهم بغير نكير.
“Para shahabat telah sepakat bahwa bagi orang yang meminta fatwa kepada Abu Bakr dan ‘Umar dan mengikuti mereka berdua, maka boleh baginya untuk meminta fatwa kepada Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal, dan selainnya keduanya serta beramal dengan perkataan mereka tanpa ada pengingkaran”.[15]
Tidak ditemukan di masa shahabat seseorang yang mengambil seseorang yang lain untuk mengikuti seluruh apa yang dikatakannya tanpa ditingalkan sedikitpun; atau meninggalkan perkataan seseorang yang lain secara keseluruhan tanpa mengambil sedikitpun darinya. Dan otomatis kita pun mengetahui bahwa hal itu juga tidak pernah ada/terjadi di masa tabi’in dan tabi’ut-tabi’in. Jika Anda mendapatkannya, maka buktikanlah satu orang saja (jika ada) di antara orang-orang yang hidup di masa keemasan yang menempuh jalan (taqlid) yang kotor. Bid’ah ini hanyalah terjadi pada abad keempat, dan hal ini dicela oleh lisan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.[16]
Semoga Allah merahmati Al-Imam Malik, imam Daarul-Hijrah yang diakui keilmuannya, keutamaannya dan kebesarannya; yaitu ketika Al-Manshuur menginginkan untuk membawa manusia (rakyatnya) beramal dengan seluruh hal yang tertuang dalam Al-Muwaththa’, namun beliau justru tidak menerimanya dan menolaknya !!.

[Dinukil oleh Abu Al-Jauzaa’ dari Shahih Fiqhis-Sunnah oleh Abu Maalik Kamal As-Sayyid, 1/43-46, Maktabah At-Taufiqiyyah – beserta terjemahannya Shahih Fikih Sunnah Lengkap, 1/67-71, Pustaka Azzam, Cet. 1/2006].

Al-Imam Asy-Syafi'iy Rahimahullah Dan Bid'ah Hasanah

Pada bahasan pembagian bid’ah, beberapa ulama membagi bid’ah menjadi dua yaitu : bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) dan bid’ah yang tercela (bid’ah madzmumah). Mereka menyandarkan pembagian tersebut kepada Al-Imam Asy-Syafi’iyrahimahullah, yang kemudian dengan semangat pembagian ini diikuti secara ghulluwoleh para pengikut hawa nafsu. Melalui dasar pembagian bid’ah ini, maka hampir dikata tidak ada istilah bid’ah (dlalalah) dalam terminology syari’at menurut mereka, karena setiap orang berhak untuk menentukan kadar baik dalam bid’ah yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, pada artikel kali ini saya mencoba menuliskan secara singkat tentang bid’ah hasanah menurut sisi pandang Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. Namun sebelumnya, perlu kiranya saya tuliskan sedikit dalil dan riwayat atau atsar yang menyinggung tentang tercelanya bid’ah dan bahayanya.
Allah ta’ala berfirman :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [QS. Al-Maaidah : 3].
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah kepada suatu umat sebelumku melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut (hawariyyun) dan shahabatnya yang mereka mengambil sunnahnya dan mentaati perintahnya. Kemudian setelah itu terjadi kebusukan/perselisihan dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, ia juga seorang mukmin. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawipun”  [HR. Muslim no. 50 dan Ahmad 1/458 no. 4379, 1/461 no. 4402].
Berkata Bakr bin Al-’Alaa’ :
فَقَالَ مُعَاذُ بْنِ جَبَلٍِ يَوْمًَا : إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا، يَكْثُرُ فِيْهَا الْمَالُ، وَيُفْتَحُ فِيْهَا الْقُرْانُ، حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ، وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ، وَالصَّغِيْرُ وَالْكَبِيْرُ، وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ، فَيُوْشِكُ قَائِلٌُ أَنْ يَقُوْلَ : مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُوْنِي، وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْانَ ؟ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى أَبْتَدَعَ لَهُمْ غَيْرَهُ ! فَإِيَّكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ، فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌُ، وَأُحَذُِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيْمِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُوْلُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيْمِ، وَقَدْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ.
Mu’adz bin Jabal berkata pada suatu hari : ”Sesungguhnya di belakang kalian nanti akan terdapat fitnah, dimana pada waktu itu harta berlimpah ruah dan Al-Qur’an dalam keadaan terbuka hingga semua orang baik mukmin, munafiq, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, hamba sahaya, atau orang merdeka pun membacanya. Pada saat itu akan ada seseorang yang berkata : ’Mengapa orang-orang itu tidak mengikutiku padahal aku telah membaca Al-Qur’an ? Mereka itu tidak akan mengikutiku hingga aku membuat-buat sesuatu bagi mereka dari selain Al-Qur’an !’. Maka hendaklah kamu hati-hati/waspada dari apa-apa yang dibuat-buat (oleh manusia), karena sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat (bid’ah) itu adalah kesesatan. Dan aku peringatkan kalian akan penyimpangan yang dilakukan oleh seorang hakim ! Karena seringkali syaithan itu mengatakan kalimat kesesatan melalui lisan seorang hakim, dan seringkali seorang munafiq itu berkata tentang kebenaran” [HR. Abu Dawud no. 4611; shahih – Shahih Sunan Abi Dawud 3/120].
عَنْ عَبْدِ اللهِ (بْنِ مَسْعُوْد) قَالَ : الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
Dari ’Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 223, Al-Laalikaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 14, 114, Al-Haakim 1/103, dan yang lainnya; sanad riwayat ini jayyid].
عَن المبَارَك عَن الحَسَن قَالَ سننكم والله الذي لا إله إلا هو بينهما بين الغالي والجافي فاصبروا عليها رحمكم الله فإن أهل السنة كانوا أقل الناس فيما مضى وهم أقل الناس فيما بقي الذين لم يذهبوا مع أهل الأتراف في أترافهم ولا مع أهل البدع في بدعهم وصبروا على سنتهم حتى لقوا ربهم فكذلك إن شاء الله فكونوا
Dari ’Abdillah bin Al-Mubarak dari Al-Hasan ia berkata : ”Perbedaan antara perilaku/perikehidupan kalian dengan sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah yang tiada tuhan yang patut disembah dengan benar melainkan Dia, seperti perbedaan antara sesuatu yang sangat berharga (mahal) dengan sesuatu yang busuk (murah). Maka bersabarlah kalian dalam memegang syari’at Allah, niscaya Allah akan mengasihi kalian. Sesunggunya Ahlus-Sunnah itu merupakan kelompok yang sangat sedikit dan kecil, baik pada masa lampau maupun pada masa yang akan datang. Mereka itu adalah orang yang tidak senang bercampur dengan ahli maksiat pada kemaksiatan mereka, dan tidak mau bekerjasama dengan para ahli bid’ah dalam mengerjakan kebid’ahan mereka. Bersabarlah kalian dalam memegang apa yang diwariskan oleh Ahlus-Sunnah hingga kalian menghadap Tuhannya (Allah). Seandainya kalian melakukannya, maka insyaAllah keberadaan kalian seperti mereka” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 222; dla’if].
عَنِ ابْنِ الْعَبَاس – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – أَنَهُ قَالَ : مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ ، إِلّا أَحْدَثُوْا فِيْهِ بِدْعَةً ، وَأَمَاتُوْا فِيْهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَا الْبِدَعِ وَتَمُوْتُ السُّنَنُ.
Dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma bahwasannya ia berkata : Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka membuat-buat bid’ah dan mematikan sunnah di dalamnya. Hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah” [Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid, 1/188, Bab Fil-Bida’i wal-Ahwaa’ : ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir, dan rijalnya adalah terpercaya”. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wadldlaah dalam Kitaabul-Bida’ hal. 39].
Itulah sedikit di antara nash dan atsar dari para pendahulu kita yang shalih (as-salafush-shalih) tentang tercelanya bid’ah. Mereka memutlakkan apa-apa yang baru dalam syari’at yang tidak ada dalilnya dan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya sebagai bid’ah. Mereka tidak pernah mengecualikan bid’ah dengan kata hasanah (baik), karena seluruh bid’ah menurut mereka adalah dlalalah (sesat). Barangsiapa yang mengklaim ada bid’ah yang tergolong hasanah, maka pada hakekatnya ia telah menuduh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan semua risalah. Baik baginya untuk memperhatikanlah perkataan Ummul-Mukminin ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa :
وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًَا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَيْهِ الْفِرْيَةًَ، واللهُ يَقُوْلُ : (يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه)
“Dan barangsiapa yang menyangka Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallammenyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang diturunkan Allah, sungguh ia telah membuat kedustaan yang sangat besar terhadap Allah. Padahal Allah telah berfirman : ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah : 67) [HR. Al-Bukhari no. 7380 dan Muslim no. 177].
Juga hendaknya ia memperhatikan perkataan ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma :
كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ
”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].
Jika kita kaitkan dengan perbuatan salafunash-shaalih di bawah, maka perkataan di atas akan lebih jelas maksudnya.
عن نافع أن رجلا عطس إلى جنب بن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال بن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه وسلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال
Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajarikami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (Alhamdulillah dalam segala kondisi) [HR. At-Tirmidzi no. 2738, Hakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan].
Membaca shalawat kepada Nabi di waktu yang tidak dicontohkan (yaitu sewaktu bersin) ternyata diingkari oleh Ibnu ‘Umar dengan alasan bahwa hal itu tidak dicontohkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah bid’ah. Tidak ada pemahaman di dalamnya adanya bid’ah hasanah (walau dengan alasan membaca shalat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).
Oleh karena itu, Al-Imam Malik rahimahullah – pemimpin ulama Madinah di jamannya – sangat mengingkari bid’ah hasanah. Ibnul-Majisyun mengatakan :
سمعت مالكا يقول : "من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا"
”Aku mendengar Imam Malik berkata : ”Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu (yaitu hari dimana Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya masih hidup) bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama” [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].
Kembali pada pembahasan Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. Kita tidak pernah berpandangan bahwa beliau menyelisihi pendahulunya dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in. Tidak pula ia menyelisihi gurunya, Al-Imam Malik bin Anasrahimahullah sebagaimana di atas. Beliau (Al-Imam Asy-Syafi’iy) pernah berkata :
مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].
Asy-Syaukani menukil perkataan Ar-Ruyani ketika menjelaskan perkataan Asy-Syafi’iy di atas :
معناه أنه ينصب من جهة نفسه شرعًا غير الشرع
“Maknanya adalah orang yang menetapkan hukum syar’iy atas dirinya dan tidak berdasarkan dalil-dalil syar’iy” [Irsyaadul-Fuhuul, hal. 240].
Dalam Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah mengatakan :
إِنَّمَا الاستحسانُ تلذُّنٌ
“Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].
Dan juga dalam kitab Al-Umm (7/293-304) terdapat pasal yang indah berjudul : Pembatal Istihsaan/Menganggap Baik Menurut Akal (Ibthaalul-Istihsaan).
Perkataan-perkataan di atas tidak mungkin kita pahami bahwa Al-Imam Asy-Syafi’iy menetapkan bid’ah hasanah – satu klasifikasi yang tidak pernah disebut oleh para pendahulu beliau. Bid’ah hasanah pada hakekatnya kembalinya pada sikap istihsan(menganggap baik sesuatu) tanpa dilandasi dalil, dan ini ditentang oleh beliaurahimahullah. Apabila kita tanya kepada mereka yang berkeyakinan adanya bid’ah hasanah : “Apa standar Anda dalam menentukan baiknya satu bid’ah ?”. Niscaya kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, karena memang tidak ada standarnya. Akhirnya, jika kita rangkum keseluruhan pendapat mereka beserta contoh-contohnya, tidaklah tersisa bid’ah bagi mereka kecuali ia adalah hasanah. Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :
فالواجب على العالم فيما يَرِدُ عليه من الوقائع وما يُسألُ عنهُ من الشرائعِ : الرجوعُ إلى ما دلَّ عليهِ كتابُ اللهِ المنزَّلُ، وما صحَّ عن نبيّه الصادق المُرْسَل، وما كان عليه أصحابهُ ومَن بعدَهم مِن الصدر الأول، فما وافق ذلك؛ أذِنَ فيه وأَمَرَ، وما خالفه؛ نهى عنه وزَجَرَ، فيكون بذلك قد آمَنَ واتَّبَعَ، ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ).
“Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang syari’at adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan atsar para shahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan, dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Sebab :‘Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at” [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawaditsoleh Abu Syaammah, hal. 50].
Lantas bagaimana riwayat yang dibawakan oleh Abu Nu’aim tentang perkataan Asy-Syafi’iy tentang pembagian bid’ah terpuji dan tercela ?
Harmalah bin Yahya meriwayatkan :
سمعت الإمام الشافعي – رحمه الله – يقول : ( البدعة بدعتان : بدعة محمود وبدعة مذمومة ، فما وافق السنة فهو محمود ، وما خالف السنة فهو مذموم )
”Aku mendengar Imam Asy-Syafi’i – rahimahullah – berkata : ’Bid’ah itu ada dua macam : (1) Bid’ah yang terpuji, dan (2) Bid’ah yang tercela. Apa-apa yang sesuai dengan Sunnah, maka hal itu adalah (bid’ah yang) terpuji. Sedangkan yang menyelisihi sunnah, maka hal itu adalah (bid’ah yang) tercela” [Hilyatul-Auliyaa’ oleh Abu Nu’aim 9/113, Daarul-Kutub Al-’Ilmiyyah, Cet. 1/1409 H].
Asy-Syaikh ‘Ali Al-Halabiy hafidhahullah telah menjelaskan bahwa selain riwayat ini bertentangan dengan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah yang telah dinukil sebelumnya, juga sanadnya lemah, karena dalam sanadnya terdapat perawi yangmajhul [lihat ‘Ilmu Ushuulil-Bida’, hal. 121; Daarur-Raayah, Cet. 2/1417].
Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga ada manfaatnya.

Abu Al-Jauzaa’ – Ciomas Permai, 2 Jumadits-Tsaaniy 1430

Larangan Memakai Cincin Besi Murni Bagi Laki-Laki


عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى على بعض أصحابه خاتما من ذهب فأعرض عنه فألقاه واتخذ خاتما من حديد فقال هذا شر هذا حلية أهل النار فألقاه فاتخذ خاتما من ورق فسكت عنه
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya : Bahwasannya Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat salah seorang shahabatnya memakai cincin dari emas. Maka beliau berpaling darinya. (Melihat hal itu), maka shahabat tersebut membuangnya dan menggantinya dengan cincin dari besi. Beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ini lebih jelek (dari cincin emas). Ini merupakan perhiasan penduduk neraka”. Shahabat tadi kembali membuang cincinnya dan menggantinya dengan cincin dari perak, sementara itu Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak berkomentar tentangnya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/163 & 2/179, Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad no. 1021, dan Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/261. Dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Aadaabuz-Zifaaf hal. 217, Al-Arna’uth dalam Takhrij ‘alal-Musnad 11/69, dan Ahmad Syaakir Syarh ‘alal-Musnad 6/80].
Hadits di atas merupakan dalil yang sangat tegas dan jelas tentang keharaman memakai cincin besi. Kedudukannya lebih jelek daripada cincin emas, padahal telah shahih beberapa riwayat yang mencela dan mengharamkan (pemakaian)-nya :
عن عبدالله بن عباس؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى خاتما من ذهب في يد رجل. فنزعه فطرحه وقال (يعمد أحدكم إلى جمرة من نار فيجعلها في يده) فقيل للرجل، بعدما ذهب رسول الله صلى الله عليه وسلم: خذ خاتمك انتفع به. قال: لا. والله! لا آخذه أبدا. وقد طرحه رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat cincin dari emas di (jari) tangan seorang laki-laki. Lalu beliau melepaskannya dan membuangnya seraya bersabda : “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang berani mengambil bara neraka lalu ia letakkan di tangannya ?”. Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada laki-laki itu : “Ambillah kembali dan manfaatkanlah cincin itu”. Laki-laki itu berkata : “Demi Allah, selamanya aku tidak akan mengambil kembali apa yang telah dibuang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2090].
عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ أنه نهى عن خاتم الذهب.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya beliau melarang memakai cincin emas” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5864 dan Muslim no. 2089].
Di antara para shahabat yang mengharamkan memakai cincin dari besi adalah ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu.
أن عمر بن الخطاب رأى على رجل خاتما من ذهب فأمره أن يلقيه فقال زياد يا أمير المؤمنين إن خاتمي من حديد قال ذلك أنتن وأنتن
Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab pernah melihat seorang laki-laki yang memakai cincin dari emas. Maka ia (‘Umar) memerintahkannya untuk melepaskan cincin itu. Lalu Ziyaad berkata : “Wahai Amiirul-Mukminiin, sesungguhnya cincinku terbuat dari besi”. Maka ‘Umar berkata : “Itu lebih busuk, lebih busuk” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq no. 19473; dengan sanad shahih].
Dan inilah madzhab Maalik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawaihrahimahumullah.
قال ابن وهب : وقال لي مالك بن أنس في التختم بالحديد والنحاس؛ قال : لم أزل أسمع أن الحديد مكروه فأما غيره فلا
“Malik bin Anas berkata kepadaku tentang cincin besi dan tembaga : ‘Aku masih mendengar bahwa cincin besi itu dibenci. Adapun selain itu tidak” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dalam Jaami’-nya no. 601 dengan sanad shahih].
قال إسحاق بن منصور المروزي لأحمد: الخاتم من ذهب أو حديدي يكره؟ فقال: إي والله. قال إسحاق كما قال
Ishaaq bin Manshuur Al-Marwaziy pernah bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) : “Apakah cincin emas dan besi itu itu dibenci ?”. Ia menjawab : “Benar, demi Allah”. Ishaaq pun mengatakan sebagaimana dikatakan Ahmad [Masaail Al-Marwaziy hal. 224].
Makna “dibenci” (makruuh) dalam atsar di atas adalah haram.
Sebagian ulama[1] ada yang membolehkan memakai cincin besi berdalil dengan perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki yang hendak menikah untuk menyediakan mahar :
انظر ولو خاتما من حديد
“Carilah, meskipun hanya berupa cincin besi” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5126 dan Muslim no. 1425].
Pendalilan tersebut keliru. Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata :
واستدل به على جواز لبس الخاتم الحديد ولا حجة فيه لأنه لا يلزم من جواز الاتخاذ جواز اللبس
“Dan berdalil dengan hadits tersebut tentang pembolehan memakai cincin dari besi adalah keliru/tidak tepat, karena diperbolehkannya mengambil cincin besi sebagai pemberian mahar tidak melazimkan kebolehan untuk memakainya” [Fathul-Baariy, 10/323].
Dan memang kedudukannya seperti itu. Kebolehan pemberian mahar berupa cincin besi hanya menunjukkan kebolehan bagi wanita (sebagai pihak yang diberi) untuk memakainya (ataupun menjualnya). Hal yang sama bahwa seorang laki-laki juga boleh memberikan mahar cincin emas kepada wanita untuk dikenakannya, namun ia sendiri (si laki-laki) diharamkan untuk memakainya. Oleh karena itu, tidak ada pertentangan antara hadits tersebut dengan hadits yang disebutkan di awal.
Adapun hadits :
عن المعيقيب قال: كان خاتم النبي صلى اللّه عليه وسلم من حديدٍ ملويٍّ عليه فضة
Dari Mu’aiqiib, ia berkata : “Adalah cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamterbuat dari besi yang disepuh/dilapisi dengan perak” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud n. 4224 dan An-Nasa’iy 8/175 dengan sanad shahih].
Maka ini pun tidak boleh dipertentangkan dengan hadits keharaman cincin besi, sebab yang diharamkan adalah cincin yang terbuat dari besi murni tanpa sepuhan (bukan besi campuran). Adapun cincin Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah cincin besi yang dilapisi perak.
Juga :
عن أبي سعيد الخدري قال: أقبل رجل من البحرين إلى النبي صلى الله عليه وسلم فسلم فلم يرد عليه وكان في يده خاتم من ذهب .. فقال صلى الله عليه وسلم: "إنه كان في يده جمرة من نار!.." قال فماذا أتختم: قال: "حلقة من حديد أو ورق أو صفر".
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ia berkata : “Pernah ada seorang laki-laki dari Bahrain ang datang menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan mengucapkan salam, namun beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawabnya karena di tangannya ada cincin yang terbuat dari emas….. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di tangan laki-laki itu terdapat bara api”. Orang itu pun bertanya : “Lantas, cincin apakah yang boleh aku pakai ?”. Maka beliau menjawab : “Cincin dari besi, perak, atau tembaga” [Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy 2/290].
Hadits tersebut tidak bisa dipakai berhujjah karena berstatus lemah (dla’if). Ibnu Rajab melemahkannya dalam Syarh ‘Ilal At-Timridzi (2/90) dan Al-Albani membahas kelemahannya secara lebih luas dalam Aadaabuz-Zifaaf hal. 220-222.
Wallaahu a’lam.
[Abul-Jauzaa’, menjelang sahur, banyak mengambil manfaat dari buku Aadaabuz-Zifaaffis-Sunnah Al-Muthahharah karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, Daarus-Salaam, 1423 H – dengan beberapa tambahan referensi lainnya].

Dzikir Pagi Dan Sore - أذكار الصباح والمساء


أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.
“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan neraka dan kubur” – dibaca pada waktu pagi; adapun waktu sore membaca :
أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.
“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan neraka dan kubur”
[Shahih - Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2723), Abu Dawud (no. 5071), At-Tirmidzi (no. 3390), dan Ahmad (no. 4192); dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu : “Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk waktu sore berkata : ……, dan apabila masuk waktu pagi beliau berkata seperti itu juga : ……”].
اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ.
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup, dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk)” – dibaca pada waktu pagi; adapun waktu sore membaca :
اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ.
“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup, dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk)”
[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy adalam Al-Adabul-Mufrad (no. 1199), Abu Dawud (no. 5068), At-Tirmidziy (no. 3391), Ibnu Majah (no. 3868), Ibnu Hibban (no. 2354), Ahmad (2/354), Al-Haitsamiy (10/114), dan Al-Baghawiy (1325/5/112); dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya beliau apabila masuk waktu pagi berkata : “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi……..”].
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبَّي، لَا إلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia dengan perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosaku kecuali Engkau” - dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shaih-nya (no. 5947), An-Nasaiy (5963), dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; dari Syaddaad bin Aus radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sayyidul-Istighfaar adalah : ……… Kemudian beliau bersabda : “Barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli surga”].
اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ.
“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaithan, dan sekutunya. Dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya” - dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Shahih – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3529) dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad (no. 1204); dari jalan Abu Raasyid Al-Hubraaniy : Bahwasannya Abu Bakr Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu berkata : “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang hendaknya aku ucapkan ketika masuk waktu pagi dan sore ?”. Beliau bersabda : ““Ya Allah, Pencipta langit dan bumi…….”.
Al-Haafidh rahimahullah menguatkan riwayat tersebut dalam Nataaijul-Afkaar (2/345-346). Asy-Syaikh Naashir rahimahullah berkata : “Isnadnya shahih”].
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) - سورة الإخلاص
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3)وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5) - سورة الفلق
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6) - سورة الناس
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia" (QS. Al-Ikhlash : 1-4).
“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki" (QS. Al-Falaq : 1-5).
“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia” (QS. An-Naas : 1-6).
Dibaca pada waktu pagi dan sore, masing-masing sebanyak tiga kali.
[Hasan – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3575), Abu Dawud (no. 5082), An-Nasa’iy (no. 5443), dan Ahmad (no. 5312); dari Mu’aadz bin ‘Abdillah bin Khubaib, dari ayahnya, bahwasannya ia berkata : “…telah bersabda Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam : “Katakanlah : ‘Qul huwallaahu ahad’ dan al-mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) pada waktu sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya itu mencukupimu dari segala sesuatu“].
اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أَُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُكَ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memasuki waktu pagi, bersaksi kepada.Mu, kepada (malaikat) pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk ciptaan-Mu, bahwasannya Engkau adalah Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. (Dan bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu” – dibaca empat kali di waktu pagi; adapun waktu sore dibaca (juga sebanyak empat kali) :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ أَُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُكَ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memasuki waktu sore, bersaksi kepadamu, kepada (malaikat) pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk ciptaan-Mu, bahwasannya Engkau adalah Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. (Dan bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu”
[Hasan bi-syawaahidihi – Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 5069) : “Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi hari atau sore hari : ………. niscaya Allah membebaskan seperempat bagiannya dari neraka. Barangsiapa yang membacanya dua kali, niscaya Allah akan membebaskan setengah bagiannya dari neraka. Barangsiapa yang membacanya tiga kali, niscaya Allah akan membebaskan tiga perempat bagiannya dari neraka. Dan barangsiapa yang membacanya empat kali, niscaya Allah akan membebaskannya secara keseluruhan dari neraka”. Dan bagi At-Tirmidzi (no. 3501) tidak menyebutkan jumlahnya, dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi : ………….. niscaya Allah akan memberikan ampunan padanya terhadap dosa yang ia lakukan pada siang hari itu. Dan jika ia mengatakannya pada waktu sore hari, niscaya Allah akan memberikan ampunan padanya untuk dosa yang ia lakukan pada malam hari itu”].
بِاسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
“Dengan nama Allah yang tidak ada bahaya atas nama-Nya sesuatu di bumi dan tidak pula di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak tiga kali.
[Shahih – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3385), Abu dawud (no. 5088-5089), Ibnu Maajah (no. 3869), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (2352 – Al-Mawaarid) secara ringkas, dan Ahmad dalam Al-Musnad; yang seluruhnya dari jalan Abaan bin ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata : Aku mendengar ‘Utsman – yaitu Ibnu ‘Affan – berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca (di waktu sore) : …..; niscaya ia tidak akan ditimpa musibah hingga pagi hari. Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi sebanyak tiga kali, niscaya ia tidak akan ditimpa musibah hingga sore hari”.
Al-Albani berkata dalam Shahihul-Jaami’ (no. 5621) : “Hadits shahih”].
رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا.
“Aku ridla Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabiku” – dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy (2/57), Ahmad (3/14), Al-Baihaqiy (9/158), dan Ibnu Hibban (no. 4593); dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :“Barangsiapa yang membaca : …………..; niscaya ia masuk surga”.
Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Ash-Shahiihah (no. 334) dan yang lainnya].
اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ.
“Ya Allah, nikmat yang aku terima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)” – dibaca di waktu pagi; adapun pada waktu sore dibaca :
اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ اشُّكْرُ.
“Ya Allah, nikmat yang aku terima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di sore ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)”.
[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5073) dan Ibnu Hibbaan (no. 2361); dari ‘Abdullah bin Ghannaam : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca pada waktu pagi : …….; sungguh ia telah menunaikan rasa syukurnya pada hari/siang itu. Dan barangsiapa yang membacanya seperti itu di waktu sore, sungguh ia telah menunaikan rasa syukurnya di waktu malam itu”.
Dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Syarh Al-Adzkaar (3/107). Dihasankan pula oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz sanadnya. Lihat Tuhfatul-Akhyaar (hal. 24)].
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَى وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ، وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebajikan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku, dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, sebelah kanan, sebelah kiri, dan sebelah atasku. Aku berlindung dengan segala kebesaran/keagungan-Mu agar aku tidak disambar dari bawahku” – dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5074, Ahmad dalam Al-Musnad (2/25), Ibnu Maajah (no. 3871), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (no. 2356), Al-Haakim (1/517), dan An-Nasa’iy (8/282) secara ringkas; dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : “Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wwa sallam pernah meninggalakan kalimat-kalimat di sore dan pagi hari : …….”.
Dishahihkan oleh Al-Haakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Al-Haafidh berkata dalam Al-Amaaliyul-Adzkaar : “Hadits hasan” - sebagaimana dalam Al-Futuuhaat Ar-Rabbaaniyyah oleh Ibnu ‘Allaan (3/108). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahih Al-Mawaarid (2/424/2356) dan yang lainnya].
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” – dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5077), Ibnu Maajah (2/1272/3867), Ahmad dalam Al-Musnad(3/60), dan An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 27); dari Abul-‘Abbas Az-Zuraqiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi :…………….; maka baginya pahala seperti membebaskan budak dari keturunan Isma’il, ditulis baginya sepuluh kebaikan, dihapus baginya sepuluh kejelekan, diangkat baginya sepuluh derajat, dan ia berada dalam penjagaan (Allah) dari gangguan syaithan hingga sore hari. Dan barangsiapa yang membacanya di waktu sore hari, maka baginya hal yang semisal hingga pagi hari”].
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا.
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata selamanya (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)” – dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Hasan – Diriwayatkan oleh Al-Haakim (1/545) dan Ibnus-Sunniy (no. 48); dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah : “Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang aku wasiatkan dengannya ? Hendaknya engkau membaca ketika memasuki waktu pagi dan sore hari : …………….”. Al-Haakim berkata : “Shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim”. Dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalamShahih At-Targhiib wat-Tarhiib (1/417/661)].
أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ - اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Aku belindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk - Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa ijin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” – ayat Kursiy (QS. Al-Baqarah : 256) – dibaca pada waktu pagi dan sore.
[Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 960) dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (541); dari Ubay bin Ka’b : Bahwasannya seorang jin berkata padanya : ‘…. ; barangsiapa yang membacanya di waktu pagi ia akan dilindungi oleh Allah dari gangguan kami hingga sore hari’. Ketika tiba waktu pagi, ia mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian ia ceritakan perihal tersebut, dan beliau kemudian bersabda : “Al-Khabiits (syaithan) itu telah benar”].
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak sepuluh kali.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Ahmad (5/420) dan Ath-Thabaraniy (no. 3883); dari Abu Ayyuub Al-Anshariy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya ia berkata : - dan waktu itu ia sedang berada di negeri Romawi - : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi : …………………..; Allah akan menulis baginya sepuluh kebaikan, menghapus darinya sepuluh kejelekan, menjadikan baginya sebanyak sepuluh pengawasan, Allah akan melindunginya dari gangguan syaithan. Dan barangsiapa yang membacanya di waktu sore, maka baginya hal yang serupa”.
Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Ash-Shahiihah (no. 2563)].
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ.
“Maha Suci Allah, aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak kalimat-Nya” – dibaca pada waktu pagi sebanyak tiga kali.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2090), Abu Dawud (no. 1503), At-Tirmidziy (no. 3555), An-Naa’iy (no. 1351), dan Ibnu Maajah (no. 3808); dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah Juwairiyyah – dan dulu ia bernama Barrah, dan kemudian beliau mengganti namanya – yang pada waktu itu ia (Juwairiyyah) sedang beribadah di tempat shalatnya. Beliau kembali dan ia masih berada di tempat shalatnya. Maka beliau bersabda : “Apakah engkau senantiasa berada di tempat shalatmu seperti ini ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Sungguh aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali setelah aku keluar tadi, yang jika ditimbang dengan apa yang engkau baca niscaya akan sebanding :…………..”].
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَومِ فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ، وَنُورَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيهِ، وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ.
“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, Rabb seluruh alam. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, rizkinya, kemenangannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa-apa yang terdapat di dalamnya, dan kejahatan sesudahnya” – dibaca pada waktu pagi; adapun pada waktu sore membaca :
أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ فَتْحَهَا، وَنَصْرَهَا، وَنُورَهَا، وَبَرَكَتَهَا، وَهُدَاهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا.
“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, Rabb seluruh alam. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini, rizkinya, kemenangannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa-apa yang terdapat di dalamnya, dan kejahatan sesudahnya”.
[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5084), dari Abu Maalik Al-Asy’ariy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian masuk waktu pagi, hendaklah ia membaca : ‘……………., kemudian jika ia masuk waktu sore, hendaklah ia membaca hal yang semisal”.
Dihasankan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahiihul-Jaami’ (no. 352)].
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.
“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefaqiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak tiga kali.
[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5090) dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwasannya ia berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengarmu berdoa setiap pagi hari : ………………, sebanyak tiga kali dan di waktu sore hari sebanyak tiga kali pula”. Maka Abu Bakrah berkata : “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengannya, dan aku senang untuk beramal dengan sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.
Asy-Syaikh Naashir berkata dalam Shahih Sunan Abi Dawud (3/251): “Hasanul-isnaad”].
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ، وَكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ، وَدِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، وَمِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.
“Di waktu pagi kami berada di atas fithrah agama Islam, kalimat ikhlash, agama Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim, dan tidak tergolong orang-orang musyrik” – dibaca pada waktu pagi.
[Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 343), Ahmad dalam Al-Musnad (3/407), dan Ad-Daarimiy dalam As-Sunan (2/2688); dari ‘Abdurrahman bin Abzaa, ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk waktu pagi membaca : ……………”].
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima” – dibaca pada waktu pagi.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah (no. 925) dan Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 53); dari Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca setelah salam shalat shubuh : ……………..”].
حَسْبِيَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.
“Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku), tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Dia. Kepada-Nya aku bertawakal. Dan Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak tujuh kali.
[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5081), Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 70); dari hadits Abud-Dardaa’ : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca setiap hari pada waktu pagi dan sore : …………….; Allah akan mencukupkannya dari hal yang menjadi perhatiannya dari perkara dunia dan akhirat”].
أَسْتَغْفِرُ اللهَ
“Aku memohon ampun kepada Allah” – dibaca pada waktu pagi sebanyak seratus kali, dan jika lebih maka afdlal.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ (hal. 411), dan Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan (1/60), dari jalan Ath-Thabaraniy dengan sanad shahih; dari Abu Burdah bin Abi Musa, dari ayahnya, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan kami waktu itu sedang duduk. Beliau bersabda : ‘Tidaklah aku berada di waktu pagi kecuali aku telah meminta ampun kepada Allah sebanyak seratus kali”.
Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Silsilah Ash-Shahiihah (no. 1600) dan Shahiihul-Jaami’ (no. 5410)].
سُبْحَانَ الله
الْحَمْدُ للهِ
اللهُ أَكْبَرُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ.
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak seratus kali, apabila lebih maka afdlal.
[Hasan – diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (476/821), dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membaca ‘subhaanallaah’ seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka hal itu lebih utama daripada seratus ekor onta. Barangsiapa yang membaca ‘alhamdulillah’ sebanyak seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka hal itu lebih utama daripada seratus ekor kuda yang ditunggangi fii sabilillah. Barangsiapa membaca ‘allaahu akbar’ sebanyak seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka hal itu lebih utama daripada membebaskan seratus orang budak. Dan barangsiapa yang membaca ‘laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu lahul-mulku walahul-hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir’ sebanyak seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, tidak akan datang seorang pun pada hari kiamat nanti membawa amalan yang dapat melebihi apa yang dilakukannya tersebut, kecuali orang tersebut juga membaca hal serupa melebihi jumlah yang ia baca”].
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.
“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya” – dibaca di waktu sore sebanyak tiga kali.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2709) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhubahwasannya ia berkata : “Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku digigit kalajengking tadi malam’. Lalu beliau bersabda : ‘Jika engkau membaca di waktu sore : ………………; niscaya tidak akan ada yang membahayakanmu’].
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
“Maha Suci Alah, aku memuji-Nya” – dibaca pada waktu pagi dan sore seratus kali, jika lebih maka afdlal.
Atau :
سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ
“Maha Suci Allah Yang Maha Agung, aku memuji-Nya” – dibaca pada waktu pagi dan sore seratus kali, jika lebih maka afdlal.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2692), At-Tirmidziy (no. 3469), An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (380/568) dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang membaca pada waktu pagi dan sore hari : Subhaanallaahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang akan datang di hari kiamat nanti (dengan satu amalan) melebihi apa-apa yang telah ia lakukan, kecuali seseorang yang membaca hal yang serupa atau melebihinya”.
Abu ‘Isa (At-Tirmidziy) berkata : “Hadits ini adalah hasan shahih ghariib”.
Dan menurut Abu Dawud (no. 5091) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi ‘subhaanallaahil-‘adhiimi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, dan jika sore hari membaca hal serupa, maka tidak ada seorang pun dari makhluk-makhluk yang datang kelak (pada hari kiamat) semisal (pahala) yang ia datang dengannya”.
Dan yang semisal dengan itu dari Al-Bukhari dalam Kitaabud-Da’aawaat (no. 6042) dari Abu Hurairahradliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca ‘subhaanallaahi wabihamdihi’ setiap hari seratus kali, akan diampuni dosanya walaupun ia seperti buih lautan”].
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah berikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” – dibaca pada waktu pagi dan sore sepuluh kali.
[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3190) dan Muslim (no. 406).
Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraniy dengan sanad jayyid, dari Abud-Dardaa’ radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi sebanyak sepuluh kali dan diwaktu sore sebanyak sepuluh kali, niscaya ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat”.
Dihasankan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahiihul-Jaami’ Ash-Shaghiir (no. 6233)].
[Diambil dari buku Adzkaarush-Shabaah wal-Masaa’ karangan Fadliilatusy-Syaikh Dr. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa’id Raslaan hafidhahullah ; Adlwaaus-Salaf, Cet. Thn. 1428 H – dengan peringkasan seperlunya oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, istrinya, kedua orang tuanya, dan saudara-saudaranya.
NB : Dalam beberapa penghukuman status hadits, mungkin ada beberapa perbedaan dengan ulama lain. Saya sengaja membawakannya sesuai dengan yang terdapat dalam kitab tanpa disertai ta’liq ataupun takhrij tambahan].