DO'AKU SELALU UNTUKMU UMMI.....

Minggu, 07 November 2010

PERBEZAAN AL-QUR’AN, HADITS QUDSI DAN HADITS NABAWI


9 ZulQaidah 1431H.

Beza antara al-Qur’an dengan hadits Qudsi:

Al-Qur’an : Diturunkan melalui perantara malaikat Jibril 'alaihissalam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan wahyu itu bermacam-macam.

Adapun hadits Qudsi maka tidak dipersyaratkan adanya perantara malaikat Jibril. Kadangkala malaikat Jibril menjadi perantaranya atau kadang kala lewat ilham atau dengan yang lainnya.

Al-Qur’an : Semuanya mutawatir dan pasti kebenaran periwayatannya (semuanya shahih).

Adapun hadits Qudsi sebagiannya ada yang shahih, dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu)

Al-Qur’an : Membacanya adalah ibadah, maka siapa saja yang membaca satu huruf dia mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuliuh kebaIkan.

Adapun hadits Qudsi tidak demikian.

Al-Qur’an : Terbagi-bagi menjadi suraH-suraH, ayat-ayat, hizb-hizb dan juz-juz.

Adapun hadits Qudsi tidak terbaGi dengan pembagian seperti itu.

Al-Qur’an : Lafazh dan maknanya adalah mukjizat.

Adapun hadits Qudsi tidak demikian secara mutlak.

Al-Qur’an : Orang yang mengingkarinya kafir, bahkan yang mengingkari satu huruf sekalipun dia dihukumi kafir.

Adapun hadits Qudsi maka siapa yang mengingkari hadits qudsi atau menolaknya karena melihat kondisi sEbagian rawi-rawinya (orang-orang yang meriwayatkan hadits) maka dia tidak kafir.

Al-Qur’an : Tidak boleh meriwayatkan atau membacanya dengan maknanya (tidak dengan lafaznya)

Adapun hadits Qudsi boleh meriwayatkannya dengan makna.

Al-Qur’an : Kalamullah (ucapan Allah Subhanahu wa Ta'ala) baik secara lafazh maupun makna.

Adapun hadits Qudsi maka maknanya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan lafazhnya (teks) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Al-Qur’an : Allah menantang orang Arab bahkan menantang seluruh makhluk untuk mendatangkan/membuat sesuatu yang seperti al-Qur’an baik dalam lafazh maupun maknanya.

Adapun hadits Qudsi maka Allah tidak menantang mereka dengannya.

Beda hadits Qudsi dengan hadits Nabawi

Hadits Qudsi : Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menisbatkan atau menyandarkan hadits (ucapan tersebut) kepada Rabbnya (Allah) Subhanahu wa Ta'ala

Adapun hadits Nabawi maka beliau tidak menyandarkannya kepada Rabbnya.

Hadits Qudsi : Kebanyakan materinya/temannya berkaitan dengan khauf (takut kepada Allah), roja’ (harapan kepada Allah) dan pembicaraan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap para Makhluknya. Dan sedikit yang berkaitan dengan hukum taklifi (hukum pembebanan syari’at seperti wajib, sunah, makruh haram dan mubah)

Adapun hadits Nabawi maka terkandung di dalamnya materi-materi/tema-tema di atas dan ditambah dengan materi/tema tentang hukum.

Hadits Qudsi : Jumlahnya sedikit kalau dilihat dari keseluruhan jumlah hadits yang ada.

Adapun hadits Nabawi maka banyak sekali.

Hadits Qudsi : Secara umum berupa Qouliyah (ucapan).

Adapun hadits Nabawi mencakup qouliyah (ucapan), fi’liyah (perbuatan) dan taqririyah (penetapan/pembenaran). Untuk melihat itu baca di kitab “Ash-Shahih al-Musnad min Al-Ahaadits Al-Qudsiyah” karya Syaikh Mustafa al-‘Adawi hafizhahullah dan ”Mabahits fii ‘Ulumi Al-Hadits” rahimahullah.

Beda antara Hadits dan Atsar.

Hadits apabila dimutlakkan di dalam istilah maka dia lebih umum/lebih luas cakupannya dari pada sekedar ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan dia mencakup hadits qouliyah (perkataan) yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hadits fi’liyah (perbuatan) beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Maka penggambaran perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam istilah hadits atau disebut juga hadits, seperti wudhu Nabi atau shalat beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan lain-lain. Dan juga mencakup sifat-sifat beliau shallallahu 'alaihi wasallam, seperti penggambaran ciri-ciri fisik dan sifat-sifat beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Demikian juga mencakup taqrir (penetapan/pembenaran) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap suatu perkara atau perbuatan yang dilakukan oleh para Sahabat, seperti taqrir beliau terhadap para Sahabat yang memakan daging dhob (sejenis biawak).

Dan apabila dimutlakkan lafazh hadits maka hal itu mencakup perkataan, dan perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana penjelasan yang lalu, dan mencakup pula perkataan dan perbuatan Sahabat radhiyallahu'anhum, maka ketika dikatakan misalnya –setelah menyebutkan sebuah hadits dikatakan-:”Dan hadits ini mauquf (hadits yang disandarkan kepada Sahabat) dari perkataan fulan dari kalangan Sahabat.” Dan juga mencakup al-Maqthu’ yaitu ucapan yang datang dari para Tabi’in. Demikian juga mencakup hadits dha’if (lemah) dan hadits maudhu’ (palsu). Dan hadits bisa disebut juga sebagai khabar.

Adapun ketika dibagi secara istilah, maka hal di atas berbeda-beda maknanya menurut sebagian ulama, perbedaaan tersebut adalah:

Hadits: Apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir, fisik maupun perilaku beliau shallallahu 'alaihi wasallam –sebagian mereka menambahkan- baik sebelum diutus menjadi Nabi ataupun setelahnya. Dan yang benar bahwa kata “hadits” identik dengan apa yang diriwayatkan dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam setelah diutus.

Khabar adalah sinonim dari kata hadits menurut kalangan ulama ahli hadits.

Dan sebagian ulama membedakan keduanya, mereka mengatakan:

Hadits adalah apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan khabar adalah apa yang datang dari selain beliau shallallahu 'alaihi wasallam. oleh sebab itu dikatakan kepada orang yang menyibukkan diri dengan ilmu sunnah/hadits disebut muhaddits dan untuk orang yang menyibukkan diri dengan ilmu tarikh (sejarah) di sebut ikhbari

Ada yang berkata bahwa di antara keduanya ada umum khusus, maka setiap hadits adalah khabar dan tidak setiap khabar hadits.

Adapun atsar dipakai oleh Ahli Hadits untuk istilah hadits marfu’ dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, atau mauquf dari Sahabat radhiyallahu'anhum. Oleh karena itu muhaddits disebut juga al-Atsary, dinisbatkan ke atsar dan dikatakan untuk hadits Qudsi “atsar Ilahi”. Kecuali menurut ulama ahli fiqih dari daerah Khurasan mereka menyebut hadits mauquf dengan atsar dan hadits marfu’ dengan khabar.

Kesimpulan dalam masalah ini :

Apabila kata Hadits dimutlakkan maka yang dimaksud adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan kadang yang dimaksud adalah sesuatu yang disandarkan kepada Sahabat radhiyallahu'anhum atai Tabi’in rahimahumullah, akan tetapi kadang-kadang lafazh itu dibatasi dengan sesuatu yang bisa memberikan faidah pengkhususan siapa yang mengucapkannya.

Dan kata khabar dan atsar dimaksudkan untuk segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang disandarkan kepada Sahabat radhiyallahu'anhum dan Tabi’in rahimahumullah, hanya saja ahli fikih dari daerah Khurasan membedakan keduanya sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Dan ini menurut muhaddits/Ahli hadits, oleh sebab itu mereka tidak membedakan antara ”haddatsanii” (mengatakan kepadaku) dan ”akhbaranii” (mengabarkan kepadaku).

(Sumber : الفرق بين القرآن والحديث القدسي وبين الحديث النبوي والحديث القدسي oleh Abdurrahman as-Suhaim, diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono)/ http://www.alsofwah.or.id/

Bid’ah& Su’ul-Hifdh


Bid’ah

Definisi
Secara bahasa, kata Bid’ah berarti : “segala sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contohnya di masa terdahulu”.

Sedangkan secara istilah, Bid’ah adalah : “sesuatu dari urusan agama yang diada-adakan setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa ada dasarnya”.

Jenis-Jenisnya
Bid’ah dibagi menjadi dua, yaitu Bid’ah Mukaffirah dan Bid’ah Mufassiqah.
1.  Bid’ah Mukaffirah
Bid’ah mukaffirah adalah bid’ah yang dapat menjadikan pelakunya menjadi kafir. Kaidah bagi pelaku Bid’ah Mukaffirah ini adalah : “setiap orang yang mengingkari suatu urusan yang mutawatir dan wajib diketahui dari urusan-urusan agama atau orang yang meyakini kebalikannya”. Orang seperti ini tidak diterima riwayatnya.
2.  Bid’ah Mufassiqah
Bid’ah mufassiqah adalah bid’ah yang hanya menjadikan pelakunya sebagai orang yang fasiq. Bid’ah ini jika dilakukan tidak menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Orang seperti ini riwayatnya tetap diterima dengan dua syarat :
-  Dia tidak mengajak orang untuk melakukan bid’ahnya.
-  Dia tidak meriwayatkan sesuatu yang dapat ia gunakan untuk melariskan bid’ahnya.

Su’ul-Hifdh
 (Buruk Hafalan)

Definisi
Sayyi’ul-Hifdh ( = orang yang memiliki sifat su’ul-hifdh) yaitu “perawi yang tidak dapat dikuatkan sisi kebenaran hafalannya dikarenakan keburukan hafalannya”.
Su’ul-Hifdhi ada dua macam :
  1. Su’ul-Hifdh yang muncul sejak lahir dan masih tetap ada padanya, sehingga menjadikan riwayatnya ditolak. Menurut pendapat sebagian ahli hadits, khabar yang dibawanya dinamakan “syadz”.
  2. Sesuatu yang menimpa perawi kadang terjadi seiring berjalannya waktu, baik karena lanjut usianya, atau karena hilang penglihatannya (buta), atau karena kitab-kitabnya terbakar. Yang demikian ini dinamakan Al-Mukhtalith (yang rusak akalnya, pikirannya, atau hafalannya).  Hukum periwayatannya adalah :
a.   Jika terjadi sebelum rusak hafalannya dan masih dapat dibedakan, maka riwayatnya diterima.
b.  Jika terjadi setelah rusak hafalannya, maka ditolak riwayatnya.
c.  Adapun jika tidak bisa ditentukan apakah terjadi sebelum rusak atau sesudahnya, maka hukum riwayat seperti ini adalah Tawaqquf, yaitu tidak diterima ataupun tidak ditolak sampai ada ketentuan yang bisa membedakan.

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/bid%E2%80%99ah-su%E2%80%99ul-hifdh/

HADIST QUDSI

Pembagian Hadits Menurut Sandarannya

Hadits menurut sandarannya terbagi menjadi dua, yaitu maqbul (diterima) dan mardud (ditolak). Dan berdasarkan pembagian ini terbagi lagi menjadi empat macam, yaitu :
1. Hadits Qudsi
2. Hadits Marfu’
3. Hadits Mauquf
4. Hadits Maqthu’

HADITS QUDSI
Definisi
Qusi menurut bahasa dinisbatkan pada “Qudus” yang artinya suci.Yaitu sebuah penisbatan yang menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan, atau penyandaran kepada Dzat Allah Yang Maha Suci.
Sedangkan Hadits Qudsi menurut istilah adalah apa yang disandarkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari perkataan-perkataan beliau kepada Allah ta’ala.

Bentuk-Bentuk Periwayatan.
Ada dua bentuk periwayatan hadits qudsi :
Pertama, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Seperti yang diriwayatkannya dari Allah ‘azza wa jalla”.
Contohnya : Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Abu Dzar radliyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti yang diriwayatkan dari Allah, bahwasannya Allah berfirman : ”Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan dhalim pada diri-Ku dan Aku haramkan pula untuk kalian. Maka janganlah kamu saling menganiaya di antara kalian”.
Kedua, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Allah berfirman….”.
Contohnya : Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Allah ta’ala berfirman : Aku selalu dalam persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersama-Nya bila dia mengingat-Ku. Maka jika dia mengingat-Ku niscaya Aku mengingatnya”.

Perbedaan Antara Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an
1. Al-Qur’an itu lafadhdan maknanya dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafadhnya dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.
2. Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah dan mendapatkan pahala, sedangkan membaca hadits qudsi bukanlah termasuk ibadah dan tidak mendapat pahala.
3. Disyaratkan mutawatir dalam periwayatan Al-Qur’an, sedangkan dalam hadits qudsi tidak disyaratkan mutawatir.

Perbedaan Antara Hadits Qudsi dengan Hadits Nabawi
Hadits Nabawi disandarkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan diceritakan oleh beliau, sedangkan hadits qudsi disandarkan kepada Allah kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan dan meriwayatkannya dari Allah. Oleh karena itu diikat dengan sebutan Hadits Qudsi. Ada yang berpendapat bahwa dinamakan Hadits Qudsi karena penisbatannya kepada Allah Yang Maha Suci. Sementara Hadits Nabawi disebut demikian karena dinisbatkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Hadits Qudsi jumlahnya sedikit. Buku yang terkenal mengenai hal ini adalah [I[Al-Ittihafaat As-Sunniyyah bil-Hadiits Al-Qudsiyyah[/I] karya Abdur-Ra’uf Al-Munawi (103 H) yang berisi 272 hadits.

Perbedaan antara Hadits Qudsi dan Al Qur’an



1)      Seseorang tidaklah dikatakan beribadah kepada Allah jika semat-mata membaca Hadits Qudsi, dia tidak diberi pahala oleh Allah ta’ala ats bacaan dia terhadap huruf-huruf yang ada pada hadits qudsi adapun jika kita membaca huruf-huruf dari ayat Al Qur’an maka kita diberi ganjaran walaupun hanya semata-mata membacanya
2)      Al Qur’an dijaga oleh Allah keotentikannya sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya): Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [Al Hijr  9]
Adapun Hadits Qudsi Allah tidak menjamin keotentikannya sehingga didapati ada Hadits Qudsi yang Shahih dan adapula Hadits Qudsi yang lemah bahkan palsu berdasarkan penelitian para Ahli Hadits yang menggunakan kaidah Ilmu Mustholah Hadits
3)      Kaum muslimin telah sepakat bahwa tidaklah dibolehkan bagi siapapun untuk membaca Al Qur’an dengan maknanya adapun dalam penukilan hadits qudsi diperbolahkan dengan menukilkan maknanya
4)      Disyariatkan bagi kaum muslimin untuk membaca Al Qur’an ketika sholat, bahhkan tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca Al Fatihah dan tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk membaca Hadits Qudsi dalam sholat-sholat mereka
5)      Allah ta’ala menantang kaum manusia untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengan Al Qur’an baik surat ataupun aya-ayatnya dan Allah tidak menantang manusia untuk mendatangkan sesuatu yang semisal dengan Hadits Qudsi, Allah ta’ala berfirman: dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (Al Baqarah  23)
6)      Mushaf Alqur’an tidak diperbolehkan disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci dari Nazis baik besar mapun kecil dan inilah pendapat yang kuat, adapun kitab yang terdapat didalamnya  Hadits Qudsi tidak diwajibkan bersuci terlebih dahulu sebelum membacanya
7)      Al Qur’an tidak diperbolehkan dibaca oleh orang-orang yang junub sampai dia melakukan mandi wajib dan inilah pendapat yang kuat dan hadits qudsi diperbolehkan dibaca walaupun seseorang dalam keadaan junub
8)      Keseluruhan Al Qur’an diriwayatkan secara mutawatir oleh para sahabat Radhiyallahu anhum sehingga menghasilkan ilmu yang yakin, maka seandainya ada salah seorang yang mengingkari satu huruf saja dari Al Qur’an maka dia kafir, adapun kalau seseorang mengingkari sesuatu dari Hadits Qudsi karena dia beranggapan hadits itu tidak shahih menurut ilmu yang dia miliki maka dia tidaklah dikafirkan, namun kalau sendainya dia menginkari hadits qudsi padahal dia tahu bahwa hadits qudsi itu shaih dari Nabi Shalallahu alaihi wa salam maka dia kafir
Selesai diterjemahkan dari kitab Syarah Arba’in An Nawawi karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin Rahimahullahu ta’ala hal 260-261 cetakan ke 3 Darus Tsurayya KSA
Alhamdulillah aladzi bi ni’matihi Tatimus Shalihat

KEJUJURAN MEMBAWA BERKAH

Di sebuah wilayah kerajaan nun jauh di sana. Hiduplah dua orang yang saling bersahabat sejak lama. Mereka adalah Abdullah dan Abdurrahman. Abdullah seorang petani yang telah terbiasa bekerja keras. Sedangkan Abdurrahman seorang pedagang yang rajin. Jika Abdullah sedang dalam kesulitan, Abdurrahman selalu membantunya. Begitupula sebaliknya, jika Abdurrahman sedang mendapat masalah, Abdullah pasti akan membantu. Kedua sahabat itu sangat rukun.

Abdullah mempunyai seorang anak perempuan bernama Siti. Anak perempuannya itu senang membantu pekerjaan sang ayah. Selain itu ia juga rajin dan taat beribadah. Sedangkan Abdurrahman memiliki anak laki-laki bernama Naufal, yang juga rajin membantu ayahnya berdagang. Sebagai sahabat karib, keduanya seringkali berkunjung satu sama lain dengan mengajak anak-anak mereka.

Pada suatu hari Abdullah berkunjung ke rumah Abdurrahman. Ia berniat ingin memperluas lahan pertaniannya. Disampaikanlah niat itu kepada sahabatnya
“Abdurrahman sahabatku.. Aku baru saja selesai panen dan Alhamdulillah aku mendapat keuntungan yang sangat besar dari hasil panenku. Sekarang aku berniat untuk menambah lagi lahan pertanianku. Apakah kau punya pandangan lahan yang dijual di daerah sekitar sini?”
Abdurrahman diam sejenak. Ia berpikir.. “Hmm.. Abdullah adalah sahabatku, ini adalah kesempatan untuk membantunya”
“Abdullah.. Bagaimana jika lahanku saja.. Kebetulan aku ada sedikit lahan peninggalan orang tua. Lagipula lahan itu tidak ada yang mengelola karena aku sibuk berdagang. Kau bisa membelinya dengan harga yang pantas”.
“Ohya? Alhamdulillah. . Kau baik sekali, sahabatku. Namun tentunya aku ingin melihatnya lebih dulu, kalau cocok barulah kita bicarakan soal harga”.

Kemudian mereka bersama-sama menuju ke tempat lahan Abdurrahman yang akan dijual.
“Abdullah.. Inilah lahan yang aku maksud”
“Wah! Lahan ini bagus sekali untuk pertanian. Apakah kau akan menjualnya semua?”.
“Aku akan jual semua untukmu, Abdullah”
“Baiklah, kalau begitu aku akan bayar sesuai dengan harga yang kau minta”

Abdullah pulang dengan hati gembira karena telah mendapatkan lahan pertanian yang baru. Sesampai di rumah ia pun bercerita kepada Siti, anak perempuannya, bahwa ia baru saja membeli lahan yang bagus dari sahabatnya.
“Anakku.. Ayo kita pergi ke kota untuk mencari bibit tanaman dan beberapa alat pertanian. Sebagian alat-alat pertanian kita sudah waktunya diganti yang baru”.
“Baik ayah.. Aku bersiap-siap dulu”

Keesokan harinya mulailah Abdullah dan Siti menggarap lahan yang baru itu. Mereka bekerja keras tak kenal lelah. Abdullah terus mencangkul tanah dari ujung batas lahan sebelah barat sampai ujung batas sebelah timur. Sementara Siti membantu mencabuti rumput dan menyiapkan makanan untuk ayahnya.

Pada saat Abdullah asyik mengayunkan cangkulnya, tiba-tiba TING!! Terdengar suara nyaring dari ujung cangkulnya. Ia coba sekali lagi mengayunkan cangkulnya, dan.. TING!!, kembali cangkulnya menatap sebuah benda keras.
“Hai! Siti! Coba kemari.. Ayah menemukan sesuatu!”
Siti datang menghampiri ayahnya.
“Ayah! Ayo kita lihat. Benda apa yang ada di bawah sana”
Mereka bersama-sama menggali tanah. Dan.. Betapa kaget mereka demi melihat apa yang mereka temukan.
“Hahh?! Bokor emas!!” teriak mereka serentak.
Mereka menemukan sebuah bokor emas sebesar buah kelapa dengan cahaya berkilauan.

Siti memungut benda itu dan membersihkannya dari tanah yang masih melekat.
“Waah… Indah sekali Ayah. Pasti harganya sangat mahal! Kita beruntung, Ayah!”
“Tidak! Tidak Anakku! Benda itu bukan milik kita. Kita tidak berhak memilikinya. Ayah hanya membeli lahan ini, bukan isinya. Ayah harus mengembalikan benda ini kepada pemiliknya, Abdurrahman sahabat Ayah”

Abdullah pun bergegas pergi ke rumah sahabatnya dengan membawa bokor emas yang baru saja ia temukan. Sesampai di rumah Abdurrahman. .
“Abdurrahman sahabatku, aku temukan benda ini di dalam lahan yang aku beli darimu. Aku tidak berhak memilikinya. Karena aku membayarmu hanya untuk sebidang lahan dan bukan isinya”
“Maaf Abdullah, aku tidak bisa menerima ini. Karena aku menjual lahan itu, tentu saja beserta isinya, jadi itu jelas bukan milikku. Tetapi milikmu”.
“Aku juga tidak bisa menerima ini, Abdurrahman. Aku takut kepada Allah jika mengambil sesuatu yang bukan hakku..”
“Aku pun demikian, Abdullah. Celakalah diriku jika memiliki sesuatu yang bukan hakku”

Mereka bingung harus bagaimana. Sesaat mereka terdiam, lalu salah satu diantara mereka mengusulkan,
“Bagaimana kalau persoalan ini kita laporkan kepada pak Kyai? Agar beliau yang memutuskan semuanya. Dan… Apapun keputusan beliau kita harus menerimanya”
Keduanya sepakat dan sama-sama berangkat menuju rumah pak Kyai.

Sesampai di rumah pak Kyai kedua sahabat itu menyampaikan permasalahan mereka. Pak Kyai berpikir sejenak, lalu mengajukan pertanyaan kepada mereka.
“Abdurrahman. .. Apakah kau mempunyai seorang anak?”
“Iya pak Kyai. Saya punya seorang anak laki-laki”.
“Hmm… Baik. Apakah anakmu itu sudah cukup dewasa untuk menikah?
“Sudah pak Kyai. Anak saya berumur 26 tahun”.
“Bagus”

“Tuan Abdullah.. Apakah kau mempunyai seorang anak?”
“Iya pak Kyai. Siti adalah anak perempuan saya satu-satunya”
“Berapa usia anakmu?”
“Emm.. Bulan depan, 21 tahun pak Kyai”
“Baiklah… Abdurrahman dan Abdullah.. Tanyakan kepada anak kalian masing-masing, apakah mereka mau dijodohkan. Jika mereka mau, juallah bokor emas itu. Lalu uang hasil penjualannya kalian gunakan untuk membiayai pesta pernikahan anak-anak kalian. Bagaimana?”.

Abdurrahman dan Abdullah saling pandang dengan wajah berseri-seri. Lalu keduanya menganggukkan kepala. Keputusan pak Kyai telah membuat mereka bernafas lega.
“Alhamdulillah. . ini adalah keputusan yang sangat adil”
“Iya.. Kita telah mendapatkan jalan keluar atas permasalahan kita”
“Abdurrahman sahabatku.. Kita benar-benar akan menjadi saudara..!”
“Abdullah.. Kau akan menjadi mertua anakku! Hahaha…!
Kedua sahabat karib itu pulang dari rumah pak Kyai dengan perasaan suka cita. Namun tiba-tiba keduanya terdiam. Ada sesuatu yang mereka lupakan…
“Abdurrahman. . Kenapa kita terlalu bergembira.. ? Kau kan belum bertanya kepada anakmu, apakah dia mau menikah dengan anakku?”
“Benar Abdullah.. Jangan-jangan anakmu juga tidak mau menikah dengan anakku!”
Mereka kembali terdiam. Pikiran mereka berkecamuk. Mereka kuatir anak-anak mereka menolak dijodohkan. Kalau sampai itu terjadi berarti persoalan bokor emas itu akan muncul kembali. Akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan anak-anak mereka dan menyampaikan maksud mereka sesuai dengan petunjuk dan nasehat pak Kyai.

Keesokan harinya Abdurrahman mengajak Naufal anaknya berkunjung ke rumah Abdullah. Sementara Abdullah dan Siti sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan sangat hati-hati mereka menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan mereka hari itu. Lalu diakhir kalimat mereka, mereka bertanya kepada anak-anaknya. .
“Bagaimana anakku? Apakah kalian mau dijodohkan?”
Sejenak Naufal dan Siti saling memandang. Sementara ayah mereka menunggu jawaban dengan hati berdebar. Akhirnya dengan serempak Naufal dan Siti memberikan jawaban yang mengejutkan.
“Kami memang sudah lama saling mencintai. Tetapi kami takut untuk berterus terang kepada Ayah!”
Mengejutkan sekaligus melegakan hati Abdullah dan Abdurrahman. Mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan mengajak anak-anak mereka saling berkunjung, rupanya telah menumbuhkan benih cinta diantara anak-anak mereka.

Pesta pernikahan Naufal dan Siti pun dilaksanakan dengan sangat meriah dengan biaya dari hasil penjualan bokor emas. Sebenarnya, bukanlah nilai bokor emas itu yang membuat mereka bahagia, akan tetapi kejujuran dan ketulusan merekalah yang menjadikan bokor emas itu membawa berkah untuk mereka dan kedua anaknya.

(sumber : milist)

SIAPKAH ANDA MENJADI CAHAYA?

Dikala pagi menyambut hari. mengawali hidup dengan senyuman membuat
hidup ini terasa indah. Indahnya hidup ini selalu saja menghampiri pada orang yang memiliki wajah yang berseri-seri. Sering kali saya berjumpa dengan orang yang memiliki wajah yang berseri-seri merupakan cerminan dalam hatinya. Hati yang bersih membuat diri kita senantiasa bercahaya untuk menerangi jalan kehidupan yang kian gelap.

Pernah saya menjumpai seorang ibu yang membuka warung, kalau ada pembeli yang bilang dia tidak punya uang maka ibu itu akan bilang, "iya udah bayarnya nanti aja kalau sudah punya uang." Bagi ibu itu membantu orang lain lebih berarti daripada materi. Tentunya tidak semua orang bisa bersikap seperti ibu tersebut, hanya bagi mereka yang telah menjadi cahayalah yang mampu berbuat baik bagi orang lain.

Persiapkan diri anda, Jadilah cahaya! bila anda sebuah lilin maka tubuh adalah lilin, sumbu adalah jiwa. Mensucikan tubuh dan jiwa dari hasrat-hasrat yang rendah dan memenuhinya dengan hasrat-hasrat yang mulia membuat diri anda menjadi siap jika Sang Khaliq berkenan
menyalakan cahaya dalam hati anda. Cahaya memudahkan kita untuk melihat dan menerangi disetiap pendakian menuju yang tempat lebih tinggi dan terhormat. cahaya itu memungkinkan kita terhindar dari bahaya.

Cahaya itu ada pada genggamanNya, Ketika anda siap, Alloh SWT akan berkenan meniupkan cahaya itu pada hati anda. Dan cahaya itu akan memancar dalam perilaku kita sehari-hari seperti mudahnya kita membantu sesama.

Lalu sudah siapkah anda menjadi cahaya?

CINTA SEORANG PEREMPUAN

"Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan (sayangnya) rentan, sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi."

Perumpamaan di atas terilhami melalui sebuah dialog dalam adegan film "Bulan Tertusuk Ilalang" karya Garin Nugroho. Betapa menakjubkan. Dan kalimat itu mengingatkan saya pada kenangan tentang sahabat saya dan mamanya ketika masa-masa SMP-SMU dulu.

Kala itu, nyaris setiap hari saya main ke rumahnya yang jauh di selatan kota. Saya tahu dia anak orang kaya. Papanya, pimpinan sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya dan mamanya adalah ibu rumah tangga biasa. Saya tak heran mendapati barang-barang bagus dan bermerk di rumahnya yang masih dalam tahap renovasi. Sofa yang empuk, televisi yang besar. Saya hanya bisa berdecak kagum sekaligus iri.

Tapi, lama-lama saya menyadari bahwa isi rumah itu makin kosong dari hari ke hari. Perabotan yang satu per satu lenyap dan televisi yang ?mengkerut? dari 29 inchi ke 14 inchi. Perubahan paling mencolok adalah wajah mama sahabat saya. Suatu saat ketika ia berbicara, tak sengaja saya dapati suatu kenyataan bahwa mama sahabat saya itu kini ompong! Kira-kira 2-3 gigi depannya hilang entah kemana.

Saya tak berani ?lebih tepatnya tak tega ? untuk bertanya. Saya juga tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas, sebuah suara, jauh di lubuk hati saya bergema : "Sesuatu yang buruk telah terjadi di rumah itu!"
Benarlah, tanpa diminta akhirnya sahabat saya datang berkunjung ke rumah saya. Setengah berbisik, ia bercerita bahwa papanya selingkuh dengan perempuan lain dan karenanya, nyaris tak pernah pulang ke rumah. Dan ini bukan main-main, perempuan itu hamil dan menuntut pertanggung jawaban papanya.

Dengan emosi ia bercerita bahwa papanya mengajaknya ke rumah perempuan itu dan meminta sahabat saya untuk memanggilnya dengan sebutan "Mama". Sebuah permintaan menyakitkan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh sahabat saya. "Mamaku cuma satu" tangkisnya tegar saat itu. Dan misteri tentang gigi mamanya yang tiba-tiba ompong, barang-barang mewah dan perabot yang satu per satu menghilang dari rumahnya pun terkuak sudah. Semuanya adalah akibat ulah papanya jua.

Dan setengah frustasi ia mengadu pada saya bahwa ia harus menanggung semua beban berat itu sendirian karena kakak satu-satunya yang kuliah di luar kota tak peduli dan tak mau memikirkan masalah itu. Mamanya pun ?yang lemah lembut? tak bisa berbuat banyak dengan kelakuan suaminya. Ia cuma bisa pasrah, gigi yang ompong itu buktinya. Dan saya? Hanya doa dan motivasi yang bisa saya berikan agar sahabat saya itu tabah dan tak putus berdoa.

Toh sekarang, setelah lama peristiwa itu berlalu, doa sahabat saya pun dijawab oleh Tuhan. Ketika itu menjelang kelulusan SMU, ia bercerita pada saya bahwa papanya sudah ?sembuh?, bertobat, dan kembali ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Nasib the other women itu entah bagaimana. Sampai di sini persoalan beres. Dan saya takjub mendengarnya, senang sekaligus heran.

Bagaimana mungkin masalah pelik ini bisa selesai semudah itu? Nurani keadilan saya berontak. Saya tak habis pikir, betapa mudahnya mama sahabat saya itu memaafkan dan menerima kembali suaminya setelah semua yang dilakukannya. Lelaki itu tak cuma berkhianat, tapi juga menyakiti fisiknya, merontokkan gigi-gigi depannya, tak menafkahi anak-anaknya dan nyaris mengosongkan isi rumahnya. Dan ia memaafkannya begitu saja. Sebuah kenyataan yang ternyata banyak juga saya temui di masyarakat kita. Perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan mudah, hanya dengan kata maaf. Mungkin inilah yang disebut orang sebagai "CINTA"!

Papa sahabat saya adalah laki-laki dengan cinta sebesar gunung, dan ketika ia meletus, laharnya meluap kemana-mana, menghanguskan apa saja, melukai fisik dan terutama hati dan jiwa istri dan anak-anaknya.

Mama sahabat saya adalah perempuan dengan cinta sebesar kuku. Memang cuma seujung jari, tapi cinta itu terus tumbuh, tak peduli jika kuku itu dipotong, bahkan jika jari itu cantengan dan sang kuku terpaksa harus dicabut, meski sakitnya tak terkira, kuku itu akan tetap tumbuh dan tumbuh lagi.

Sebuah cinta yang mengagumkan dari seorang perempuan yang saya yakin tak cuma dimiliki oleh mama sahabat saya itu. Cinta yang terwujud dalam sebuah tindakan agung : "Memaafkan". Sebuah tindakan yang butuh kekuatan besar, butuh energi banyak, yang anehnya banyak dimiliki oleh makhluk (yang katanya) lemah bernama perempuan.

Note : Renungan untuk para Laki-laki agar mampu memahami cinta seorang perempuan/istri. Semoga manfaat.

ZAUJATII (ISTRIKU)

احبك مثلما انتي
Uhibbuki mitsla maa anti
Aku mencintaimu apapun dirimu

احبك كيفما كنتي
Uhibbuki kaifa maa Kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu

ومهما كان مهما صار
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan kapanpun

انتي حبيبتى انتي
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku

زوجتي
Zaujatii
Duhai istriku

انتي حبيبتى انتي
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku

حلالي انت لا اخشى عزولا همه مقتي
لقد اذن الزمان لنا بوصل غير منبتي
Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.

سقيت الحب في قلبي بحسن الفعل والسمت
يغيب السعد إن غبت ويصفو العيش إن جئت
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li wassamti
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in ji'ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap ,
Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana

نهاري كادح حتى إذا ما عدت للبيت
لقيتك فانجلى عني ضناى اذا ما تبسمت
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum

تضيق بى الحياة اذا بها يوما تبرمتي
فأسعى جاهدا حتى احقق ما تمنيتي
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman tabarromti
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras
Sampai benar-benar mendapatkan apa yang engkau inginkan

هنائى انت فلتهنئى بدفء الحب ما عشتي
فروحانا قد ائتلفا كمثل الارض والنبت
Hanaa'ii anti faltahna'ii bidifil hubbi maa 'isyti
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi wannabti
Engkau kebahagiaanku . tanamkanlah kebahagiaan selamanya
Jiwa-jiwa kita telah bersatu bagaikan tanah tumbuhan

فيا أملي ويا سكني
ويا انسي وملهمتي
يطيب العيش مهما ضاقت الايام ان طبتي
Fayaa amalii wa yaa sakanii wayaa unsii wa mulhimati
Yathiibul 'aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.
indahnya hidup ini walaupun hari-hariku berat asalkan engkau bahagia.

----------------------------------------
Translate by :
Abu Tabah wa Saladin wa Jundullah wa Jannati

NASEHAT IMAM ASY-SYAFI'I KEPADA MURIDNYA IMAM AL-MUZANY

Imam Al-Muzany bercerita, "Aku menemui Imam Asy-Syafi'i menjelang wafatnya, lalu aku berkata, "Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai ustadzku?"

Beliau menjawab, "Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelakan amalanku. Aku tidak tahu, apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya. "

Aku berkata, "Nasehatilah Aku."

Asy-Syafi'i berpesan kepadaku, "Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat didalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu dan jangan lupa engkau akan berdiri dihadapan Allah. Takutlah kepada Allah 'Azza wa Jalla, jauhilah apa-apa yang Dia haramkan, laksanakanlah segala yang Dia wajibkan, dan hendaklah engkau bersama Allah dimanapun engkau berada. Jangan sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah terhadapmu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzholimimu, sambunglah orang yang memutus silaturrahmi kepadamu, berbuat baiklah kepada siapa yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan."

Aku berkata, "Tambahkan (nasehatmu) kepadaku."

Beliau melanjutkan, "Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran adalah thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata pencaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harap adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai jilbabmu, shadaqah sebagai pelindungmu dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tidak tergesa-gesa sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunai sebagai penjaramu dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur'an sebagai pembicaramu dengan kejelasan, dan jadikanlah Allah sebagai penyejukmu. Siapa yang sifatnya seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya."

Kemudian Asy-Syafi'i mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta'bir. Lalu beliau bersya'ir (dengan terjemahan):

Kepada-Mu -wahai ilah segenap makhluk, wahai pemilik anugerah dan kebaikan
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa.
Tatkalah hati telah membatu dan sempit segala jalanku
Kujadikan harapan pengampunanmu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, namun tatkala dosa-dosa itu kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabbku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorangpun ahli ibadah yang tersesat oleh iblis
Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, maka Engkau telah memaafkan seorang yang congkak, zholim lagi sewenang-wenang, yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa walaupun diriku telah Engkau masukkan kedalam jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar."


(Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal 430-431) dan ditulis ulang dari Majalah An-Nasihah Volume 13 tahun 1429 H/2008 M